14 Nov 2015

Indonesia Muslim Fashion Expo in Makassar

Tens of Indonesian muslim fashion brands and shops take part in Moslem Fashion Expo in Makassar Indonesia. The expo held from November 12 to 15, 2015. Apart of fashion products expo, it also held several fashions shows.
Muslim fashion Industry grows very fast in Indonesia in the past several years. As common fashion, Muslim clothing trend is changing consistently. Every year, there are many new designers and brands come. Muslim fashion also becomes the main show in Jakarta Fashion Week, the Indonesia annual biggest fashion event.
This circumstance makes Indonesia become the centre of Islamic fashion industry of the world. The growth is supported by many Indonesian moslem who think wearing muslim cloth is not outdate anymore. Also because many Indonesian designers take the opportunity to develop stylish Islamic wear that is not evolved in many Islamic countries.
See all images and license HERE

















9 Nov 2015

Makassar Culture Carnival 2015

Ribuan warga Makassar berkumpul Jalan Penghibur menyaksikan pawai Makassar Culture Carnival 2015. Berbagai komunitas ambil bagian dalam karnaval yang berlangsung guna memperingati hari jadi Kota Makassar ke 408 tahun.

Thousands people gather at Penghibur Street during Makassar Culture Carnival in Makassar, Indonesia. Different communities in the city participated in a carnival that held to celebrate the 408th anniversary of Makassar City. 

Photos : Yermia Riezky Santiago / Pacific Press

See all images in Pacific Press Gallery.















See all images in Pacific Press Gallery.

16 Aug 2014

100 Tahun Terusan Panama



Tanggal 15 Agustus lalu adalah peringatan 100 tahun beroperasinya Terusan Panama. Terusan Panama adalah terusan yang menghubungkan Samudera Pasifik dan Samudera Atlantik. Terusan sepanjang 77,1 kilometer ini dibangun dengan memotong daratan Panama dari Colon hingga Balboa.

Menurut situs ensiklopedi elektronik Wikipedia, Perancis mulai mengerjakan proyek ambisius ini pada 1881, namun pembangunan terusan ini tidak berlangsung lancar. Tingginya tingkat kematian dan penyakit membuat pembuatannya tersendat. Amerika Serikat kemudian mengambil alih pembangunan terusan ini dan ia membutuhkan waktu 10 tahun untuk merampungkan pembangunannya.

Pembangunan terusan ini memperpendek jalur pelayaran antara Samudera Pasifik dan Samudera Atlantik. Sebelumnya Kapal harus memutar jauh ke bagian paling selatan Amerika Selatan, tepatnya di Tanjung Horn yang berbahaya. Pendeknya jarak sudah pasti sangat menguntungkan perusahaan pelayaran secara finansial. 





Pada awal beroperasi pada 1914, sebanyak 1000 kapal melintasi terusan ini setiap tahunya. Jumlah itu meningkat menjadi 14.702 per tahun pada 2008 dengan total angkutan sebanyak 309,6 juta ton. Hingga 2008, total sebanyak 815 ribu kapal yang melintasi terusan itu.

Sejak tahun 2007, pekerjaan untuk memperlebar Terusan menguras biaya hingga 5,2 miliar dollar AS. Pekerjan tersebut diharapkan selesai pada 2014. Dengan pelebaran itu, Terusan Panama dapat menampung kapal dengan ukuran dua kali ukuran maksimal yang sebelumnya diperbolehkan melewati Terusan tersebut.

Memperingati 100 tahun Terusan Panama, Pigijo menampilkan beberapa foto yang menampilkan salah satu keajaiban dunia modern.






Proses pembangunan Terusan Panama



Pemandangan dari menara observasi dimana tampakSungai Chagres, satu bagian dari Terusan Panama, Desa Indian Embera, dan Kota Gamboa yang dikelilingi oleh hutan lebat


Dam Gatun Lock di Terusan Panama pada awal abad 20



Kapal pesiar Europa melalui Terusan Panama




Gambar kapal pertama yang melalui Terusan Panama SS Ancon pada 15 Agustus 1914



Pintu air Pedro Miguel di Terusan Panama


Kapal kargo melintasi pintu air Miraflores


Jembatan Seabad Terusan Panama










 

Pengaruh istana dalam kehidupan sastra Raja Ali Haji





Raja Ali Haji tumbuh dalam lingkungan dengan budaya tulis menulis yang berakar kuat. Pembuatan naskah menjadi tradisi istana. Van der Putten dan Al Azhar dalam bukunya Dalam Perbekalan Persahabatan: Surat-Surat Raja Ali Haji kepada Von de Wall menuliskan, para penulis dalam kerajaan Melayu khususnya di Pulau Penyengat membuat dan menyalin karya-karya berupa hikayat, syair, jenis prosa dan puisi Melayu yang membahas berbagai topik sebagai sarana hiburan dan pembelajaran bagi masyarakat. 

Dalam keluarga Ali Haji, keluarganya menjadi salah satu pendorong utama. 

"Besar kemungkinan Raja Ali Haji terdorong untuk menulis karena ayahnya juga gemar menulis. Ayahnya juga memiliki koleksi-koleksi bacaan yang dapat memancing minat Raja Ali Haji pada kegiatan menulis," kata Aswandi yang ditemui di Tanjungpinang, Rabu pekan lalu. 

Sebagai orang dalam istana, Raja Ali Haji mendapatkan pendidikan yang didapat anak-anak penghuni istana. Ulama-ulama yang datang ke Penyengat tidak saja menjadi sumber memahami agama Islam, tapi oleh Raja Ali Haji kesempatan itu digunakan untuk meningkatkan kemampuan literasinya. 

Perjalanan ke Batavia dan Mekkah mendorong Ali Haji menuliskan pengalamannya di dua peristiwa itu dalam karyanya Tuhfat Al-Nafis. Perannya dalam pemerintahan dan ulama bagi masyarakat di Pulau Penyegat juga diyakini memberikan sumbangsih pada produktivitas Raja Ali Haji. Gurindam Dua Belas, misalnya, menerangkan ajaran-ajaran moral  yang berguna dalam hubungan sesama manusia atau antar manusia dengan Tuhannya. Sementara Thamra Tu Al-Muhammadiyafa menegaskan peran seorang raja yang jika tidak memerhatikan kebutuhan masyarakatnya tak dapat diterima sebagai penguasa lagi. 

Selain tradisi tulis menulis telah berakar di Pulau Penyengat, dorongan menghasilkan karya-karya tulis baik yang asli maupun salinan turut dipicu ketertarikan Belanda terhadap alam Melayu yang makin bertumbuh. Pemerintah Belanda kemudian membentuk Departemen Urusan Pribumi. Menurut Van der Putten dan Al Azhar, departemen itu bertugas mengumpulkan bahan-bahan tentang bahasa setempat. 

Bahasa Melayu mendapat tempat utama bagi Belanda. Naskah-naskah Melayu diperlukan sebagai bantuan bahan ajar pegawai pemerintahan di Hindia-Belanda. Ini membuat Residen Riau sibuk mencari bahan-bahan tentang masyarakat dalam lingkungan Kerajaan Riau-Lingga. Pada 1822-1826 misalnya, Residen Von Ranzow mengumpulkan dan menyusun silsilah keluarga diraja Riau. Sementara Residen Elout (1826-1830) mengupah beberapa juru tulis Melayu untuk menyalin naskah di kantornya di Tanjungpinang. 

"Puncak kegiatan pengumpulan naskah Melayu terjadi pada sekitar tahun 1860-an. Saat itu Von de Wall dan Klinkert mengumpulkan ratusan naskah untuk mempelajari bahasa dan kebudayaan Melayu," tulis Van de Putten dan Al Azhar.(Yermia Riezky dan Fenny Ambaratih)

* Pernah diterbitkan di Majalah Batam Pos Edisi 45