16 Aug 2014

100 Tahun Terusan Panama



Tanggal 15 Agustus lalu adalah peringatan 100 tahun beroperasinya Terusan Panama. Terusan Panama adalah terusan yang menghubungkan Samudera Pasifik dan Samudera Atlantik. Terusan sepanjang 77,1 kilometer ini dibangun dengan memotong daratan Panama dari Colon hingga Balboa.

Menurut situs ensiklopedi elektronik Wikipedia, Perancis mulai mengerjakan proyek ambisius ini pada 1881, namun pembangunan terusan ini tidak berlangsung lancar. Tingginya tingkat kematian dan penyakit membuat pembuatannya tersendat. Amerika Serikat kemudian mengambil alih pembangunan terusan ini dan ia membutuhkan waktu 10 tahun untuk merampungkan pembangunannya.

Pembangunan terusan ini memperpendek jalur pelayaran antara Samudera Pasifik dan Samudera Atlantik. Sebelumnya Kapal harus memutar jauh ke bagian paling selatan Amerika Selatan, tepatnya di Tanjung Horn yang berbahaya. Pendeknya jarak sudah pasti sangat menguntungkan perusahaan pelayaran secara finansial. 





Pada awal beroperasi pada 1914, sebanyak 1000 kapal melintasi terusan ini setiap tahunya. Jumlah itu meningkat menjadi 14.702 per tahun pada 2008 dengan total angkutan sebanyak 309,6 juta ton. Hingga 2008, total sebanyak 815 ribu kapal yang melintasi terusan itu.

Sejak tahun 2007, pekerjaan untuk memperlebar Terusan menguras biaya hingga 5,2 miliar dollar AS. Pekerjan tersebut diharapkan selesai pada 2014. Dengan pelebaran itu, Terusan Panama dapat menampung kapal dengan ukuran dua kali ukuran maksimal yang sebelumnya diperbolehkan melewati Terusan tersebut.

Memperingati 100 tahun Terusan Panama, Pigijo menampilkan beberapa foto yang menampilkan salah satu keajaiban dunia modern.






Proses pembangunan Terusan Panama



Pemandangan dari menara observasi dimana tampakSungai Chagres, satu bagian dari Terusan Panama, Desa Indian Embera, dan Kota Gamboa yang dikelilingi oleh hutan lebat


Dam Gatun Lock di Terusan Panama pada awal abad 20



Kapal pesiar Europa melalui Terusan Panama




Gambar kapal pertama yang melalui Terusan Panama SS Ancon pada 15 Agustus 1914



Pintu air Pedro Miguel di Terusan Panama


Kapal kargo melintasi pintu air Miraflores


Jembatan Seabad Terusan Panama










 

Pengaruh istana dalam kehidupan sastra Raja Ali Haji





Raja Ali Haji tumbuh dalam lingkungan dengan budaya tulis menulis yang berakar kuat. Pembuatan naskah menjadi tradisi istana. Van der Putten dan Al Azhar dalam bukunya Dalam Perbekalan Persahabatan: Surat-Surat Raja Ali Haji kepada Von de Wall menuliskan, para penulis dalam kerajaan Melayu khususnya di Pulau Penyengat membuat dan menyalin karya-karya berupa hikayat, syair, jenis prosa dan puisi Melayu yang membahas berbagai topik sebagai sarana hiburan dan pembelajaran bagi masyarakat. 

Dalam keluarga Ali Haji, keluarganya menjadi salah satu pendorong utama. 

"Besar kemungkinan Raja Ali Haji terdorong untuk menulis karena ayahnya juga gemar menulis. Ayahnya juga memiliki koleksi-koleksi bacaan yang dapat memancing minat Raja Ali Haji pada kegiatan menulis," kata Aswandi yang ditemui di Tanjungpinang, Rabu pekan lalu. 

Sebagai orang dalam istana, Raja Ali Haji mendapatkan pendidikan yang didapat anak-anak penghuni istana. Ulama-ulama yang datang ke Penyengat tidak saja menjadi sumber memahami agama Islam, tapi oleh Raja Ali Haji kesempatan itu digunakan untuk meningkatkan kemampuan literasinya. 

Perjalanan ke Batavia dan Mekkah mendorong Ali Haji menuliskan pengalamannya di dua peristiwa itu dalam karyanya Tuhfat Al-Nafis. Perannya dalam pemerintahan dan ulama bagi masyarakat di Pulau Penyegat juga diyakini memberikan sumbangsih pada produktivitas Raja Ali Haji. Gurindam Dua Belas, misalnya, menerangkan ajaran-ajaran moral  yang berguna dalam hubungan sesama manusia atau antar manusia dengan Tuhannya. Sementara Thamra Tu Al-Muhammadiyafa menegaskan peran seorang raja yang jika tidak memerhatikan kebutuhan masyarakatnya tak dapat diterima sebagai penguasa lagi. 

Selain tradisi tulis menulis telah berakar di Pulau Penyengat, dorongan menghasilkan karya-karya tulis baik yang asli maupun salinan turut dipicu ketertarikan Belanda terhadap alam Melayu yang makin bertumbuh. Pemerintah Belanda kemudian membentuk Departemen Urusan Pribumi. Menurut Van der Putten dan Al Azhar, departemen itu bertugas mengumpulkan bahan-bahan tentang bahasa setempat. 

Bahasa Melayu mendapat tempat utama bagi Belanda. Naskah-naskah Melayu diperlukan sebagai bantuan bahan ajar pegawai pemerintahan di Hindia-Belanda. Ini membuat Residen Riau sibuk mencari bahan-bahan tentang masyarakat dalam lingkungan Kerajaan Riau-Lingga. Pada 1822-1826 misalnya, Residen Von Ranzow mengumpulkan dan menyusun silsilah keluarga diraja Riau. Sementara Residen Elout (1826-1830) mengupah beberapa juru tulis Melayu untuk menyalin naskah di kantornya di Tanjungpinang. 

"Puncak kegiatan pengumpulan naskah Melayu terjadi pada sekitar tahun 1860-an. Saat itu Von de Wall dan Klinkert mengumpulkan ratusan naskah untuk mempelajari bahasa dan kebudayaan Melayu," tulis Van de Putten dan Al Azhar.(Yermia Riezky dan Fenny Ambaratih)

* Pernah diterbitkan di Majalah Batam Pos Edisi 45

Pilihan melepas penat di bagi masyarakat pulau Jawa yang sesak

Meski saat ini pulau Jawa begitu padat dengan penduduk, masih ada beberapa daerah di Pulau itu yang layak untuk dikunjungi untuk berwisata. Beberapa diantaranya menyajikan kenikmatan wisata alam. Ini membuat penduduk yang penat dengan rutinitas dapat menikmati kesegaran baru di kawasan-kawasan wisata tersebut. Diantara banyaknya lokasi wisata alam, tim Ekspedisi Geowisata National Geographic Traveller Indonesia mencatat beberapa lokasi menarik,. Daerah wisata tersebut adalah sebagai berikut:

1. Alas Purwo, Jawa Timur
Tempat ini paling dikenal dengan Teluk Grajagan di Plengkung. Banyak peselancar dunia menyebut ini sebagai G-Land, tempat yang memuaskan hasrat berselancar mereka. Pengunjung juga dapat menikmati daerah ini dengan berkemah di hutan formasi pantai serta berpasir putih di daerah Triangulasi. Atraksi lain adalah melihat lokasi peteluran penyu di Pantai Ngagelan. 
2. Bromo – Tengger – Semeru, Jawa Timur
Bagi masyarakat Jawa Timur, kawasan ini termasuk mudah dikunjungi. Pasalnya akses menuju ke lokasi wisata ini telah terbangun dengan baik. Ini membuat kawasan tersebut ramai dikunjungi pada akhir pekan. Bentangalam berupa lautan oasr, gunungapi Bromo, dan kaldera yang mengelilinginya mejadi sajian utama. Setiap subuh, pengunjung berkumpul di Gunung Panjakan untuk menikmati matahari terbit. Mereka yang senang mendaki gunung atau hiking tidak akan meninggalkan kesempatan untuk mendaki gunung Semeru. Jika tidak sanggup mencapai puncak, minimal dapat sampai untuk berkemah di Ranu Kumbolo, Ranu Pani, dan Ranu Kumbolo. 
3. Ciremai, Jawa Barat
Gunung Ciremai sangat dikenal dengan pendakian gunung. Pendakian dilakukan melalui jalur Linggarjati atau Palutungan. Selain itu pengunjung dapat menikmati keindahan alam dan melakukan aktivitas seperti trekking ke air terjun Curug Sawer yang berlokasi di Desa Airlangga, Kecamatan Argapura, Majalengka. Kegiatan lain berupa perkemahan juga dapat dilakukan di Desa Babakan Mulya, Kecamatan Jalaksana, Kuningan.


4. Ujung Kulon, Jawa Barat
Siapa yang pernah dengan spesies badak Jawa? Badak yang dikenal dengan nama badak bercula satu atau bacusa ini banyak ditemukan di Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon. Karena fungsinya menjaga populasi badak dan banteng, pada tahun 1991 Unesco menetapkan Ujung Kulon sebagai Warisan Dunia. Beberapa atraksi wisata yang bisa dinikmati di Ujung Kulon adalah wisata perairan dan pengamatan Pulau Peucang, susur sungai dan hutan, serta pengamatan peteluran penyu di Karang Copong, Ciujungkulon, Cidaon, hingga Tanjung Layar. Keberadaan badak Jawa juga dapat diamati melalui pencarian jejaknya di Cihandeuleum.


(Yermia Riezky)

13 Aug 2014

Raja Ali Haji, Peletak Dasar Tata Bahasa Melayu




Jika Anda mencari tahu siapa Raja Ali Haji, banyaklah julukan yang akan ditemukan. Ia adalah ulama, ahli sejarah, pujangga, penyair, dan Bapak Bahasa Indonesia yang mendapat gelar pahlawan Nasional 10 November tahun 2004 lalu. Namun sampai manakah orang Indonesia mengingat tokoh yang sudah wafat ratusan tahun silam ini?

Satu hari pada 1822...

Satu rombongan dari Kerajaan Riau-Lingga tiba di Batavia. Pemimpin rombongan itu, Raja Ahmad datang membawa istri dan dua orang anaknya, Raja Ali dan Raja Muhammad. Rencananya, rombongan yang berlayar jauh dari Pulau Penyengat akan menemui Gubernur Jenderal Hindia Belanda Godart Alexander Gerad Philip Baron den Capellen. Sebuah urusan penting membawa rombongan penasihat Yang Dipertuan Muda Kerajaan Riau-Lingga menemui Gubernur Jenderal Capellen.

Kunjungan yang berlangsung selama tiga bulan itu tak hanya bermuatan politis. Keluarga Raja Ahmad meluangkan waktu untuk mengamati apa yang mereka temui di sana. Perjalanan tak berlangsung membosankan karena mereka ditemani oleh Christiaan van Angelbeek, penerjemah resmi Biro Urusan Pibumi pada pemerintahan Hindia Belanda.

Raja Ali yang berumur sekitar 13 tahun ketika itu berkenalan dengan beberapa orang Belanda yang dapat berbahasa melayu dengan baik. Mereka mengunjungi Bogor, menonton pertunjukan kesenian dan opera, serta mengunjungi ulama ternama. Salah satu yang paling diingat oleh Raja Ali adalah kunjungannya ke gedung opera Scouwburg yang kini dikenal dengan Gedung Kesenian Pasar Baru Jakarta.

Perjalanan Raja Ali keluar Pulau Penyengat pada masa remajanya tak hanya saat keluarganya berangkat ke Batavia. Di usianya yang ke-19, ia mengikuti ayahnya berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Rombongan calon haji Riau-Lingga cukup besar. Selain Raja Ahmad dan Raja Ali, turut pula Said Abdullah, Said Hamid, dan dua pegawai Kerajaan Riau-Lingga Khatib Abdulrahman dan Bilal Abdullah.

Tak hanya itu, turut juga Haji Abdul Jamil yang merupakan putra Haji Abdul Wahab guru besar Raja Ahmad dan Engku Putri dari Minangkabau, Encik Muhammad Saleh yang merupakan putra Encik Abu Bakar guru Yang Dipertuan Muda Raja Jakfar saat belajar Al Quran di Trengganu. Ikut pula dalam rombongan Muhammad bin Encik Makmur, Ahmad bin Encik Makmur dan seorang pegawai masjid asal Jawa bernama Ismail. Perjalanan mereka bermodalkan uang 10 ringgit pemberian Engku Putri ditambah 14 ribu ringgit uang yang diperoleh Raja Ahmad saat ia sendiri berniaga ke Pulau Jawa.

Setibanya di Jeddah, rombongan itu disambut oleh sejumlah Syekd Haji, di sana mereka dikenal dengan Mutawwif. Para Syekh menawarkan jasa sebagai pemandu, menyediakan akomodasi dan hal-hal pendukung selama di Tanah Suci. Raja Ahmad memilih Syekh Ahmad Msyafi yang memandu mereka selama menunaikan ibadah haji. Salah satu alasannya, Syekh Ahmad merupakan keturunan hamba tua dan Bugis 40 hamba laki-laki pengiring Daeng Marewa di Riau.

Sepulang dari menunaikan ibadah haji, Raja Ahmad kemudian dikenal dengan nama Engku Haji Tua, sedangkan anaknya Raja Ali sepulangnya dari Mekah dipanggil Raja Ali Haji.

Dua perjalanan itu sangat berkesan bagi Raja Ali Haji. Ia kemudian secara rinci menulis perjalanan itu dalam karyanya Tuhfat Al-Nafis (Bingkisan Berharga) yang menceritakan tentang sejarah Melayu. Dalam karya yang sebagian juga ditulis oleh Raja Ahmad itu, Ali Haji menceritakan, kepulangan mereka juga membawa hadiah yang diterima rombongan termasuk dua budak asal Afrika dari bangsa Habsy dan seoang Bangsa Nubi. Kisah itu sempat membangkitkan pertanyaan sejarawan Kepulauan Riau, Aswandi Syahri, "Apakah ada keturunan orang Habsy dan Nubi di Pulau Penyengat?"

Tuhfat Al-Nafis merupakan salah satu karya yang lahir dari tangan Raja Ali Haji. Dosen Fakultas Sastra Universitas Udayana Bali, I Nyoman Veda Kusuma dalam tulisannya Raja Ali Haji: Tokoh Bahasa dan Sastra Melayu Abad XIX mengatakan, berdasarkan katalog Van Ronkel yang tersimpan di Museum Jakarta, Ali Haji memiliki tujuh karya yang dikenal. Selain Tuhfat Al-Nafis, Ali Haji juga menulis Silsilah Melayu dan Bugis dan Sekalian Raja-Rajanya, Gurindam Dua Belas, Bustan Al-Kantibin, Nasihat, Syair Abdul Muluk, dan Thamra Tu Al-Muhammadiyafa. Dari ketujuh karyanya, Gurindam Dua Belas yang paling sering terdengar di kalangan umum. Lainnya beredar dan dipelajari para penggiat sastra dan sejarah.

Karya-karya Raja Ali Haji terkenal karena mampu melampaui zaman. Aswandi menyebut Gurindam Dua Belas sebagai karya yang aktual sepanjang zaman karena keluasan dan kedalaman kandungan isinya. Sementara pada zaman Ali Haji, Eliza Netscher yang menerbitkan Gurindam Dua Belas mengatakan karya itu, "Sangat menyenangkan bagi telinga orang Eropa."

Dalam perjalanan, terungkap bahwa Ali Haji merupakan tokoh yang merintis penggunaan bahasa Melayu terstruktur. Ini membuat ia diminta Hermann von de Wall penyusun Kamus Bahasa Melayu -Belanda, untuk membantu penyusunan buku tersebut.

Jasanya di bidang bahasa dan sastra membuat Pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Raja Ali Haji 9 tahun lalu. Ia dinobatkan bersamaan dengan Ismail Marzuki, Ahmad Rifai, Maskoen Soemadiredja, Andi Mappanyukki, dan Gatot Mangkoepraja.

Gelar Pahlawan Nasional untuk Raja Ali Haji telah diusulkan Pemerintah Daerah Riau karena jasa-jasanya terhadap bahasa Melayu yang kemudian dijadikan bahasa nasional.Terutama pencatat pertama dasar-dasar tata bahasa Melayu lewat buku Pedoman Bahasa yang menjadi standar bahasa Melayu. Bahasa Melayu standar itulah yang dalam Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 ditetapkan sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia.

Anugerah ini membuat Ali Haji menjadi anggota kerajaan Riau-Lingga kedua setelah kakeknya, Raja Haji Fisabilillah yang mendapat gelar Pahlawan Nasional. Raja Haji mendapatkannya pada 1997. (Yermia Riezky & Fanny Ambaratih 

*Pernah diterbitkan di Majalah Batam Pos 10 November 2013